Make your own free website on Tripod.com

PROPINSI DAERAH TINGKAT I
TIMOR TIMUR
 
 
TINJAUAN PARUH
WAKTU REPELITA VI
 
 
I.    SASARAN REPELITA VI
 

A. BIDANG EKONOMI

Sasaran pembangunan ekonomi adalah tercapainya laju pertumbuhan PDRB nonmigas yang diperkirakan rata-rata sekitar 7,8% per tahun, dengan laju pertumbuhan sektoral, yaitu tanaman bahan makanan sebesar 2,4%, pertanian 3,9%, pertambangan dan penggalian nonmigas 14,3%, industri nonmigas 10,7%, listrik, gas dan air minum 8,7%, bangunan sekitar 13,7%, perdagangan 9,0%, pengangkutan dan komunikasi 8,7%, jasa-jasa 8,3%, serta pemerintahan dan pertahanan sekitar 4,9%.

Sasaran laju pertumbuhan ekspor nonmigas untuk Propinsi Timor Timur rata-rata adalah 16% per tahun. Sedangkan, sasaran laju pertumbuhan kesempatan kerja adalah rata-rata 2,4% per tahun sehingga tercipta tambahan kesempatan kerja baru bagi 41,2 ribu orang. Sasaran pendapatan perkapita sampai akhir Pelita VI sebesar Rp.904.200,-.
 

B.    BIDANG SOSIAL

Sasaran pembangunan sosial adalah meningkatnya derajat kesehatan dan gizi masyarakat secara merata dengan peningkatan usia harapan hidup menjadi 62 tahun serta penurunan angka kematian bayi menjadi 57 per seribu kelahiran hidup; menurunnya laju pertumbuhan penduduk sesuai dengan sasaran nasional; makin merata, meluas, dan meningkatnya kualitas pendidikan dasar dan kejuruan; meningkatnya angka partisipasi kasar sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) masing-masing menjadi sekitar 58% dan sekitar 48%; serta dimulainya pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan tahun. Sasaran Angka Partisipasi Kasar SD sebesar 98% dan tingkat melek huruf yang ingin dicapai pada akhir Pelita VI sebesar 70%.
 

C.    BIDANG FISIK DAN PRASARANA

Sasaran di bidang ini adalah berkembangnya sistem transportasi antarmoda yang terpadu sehingga mampu meningkatkan aksesibilitas wilayah propinsi ini secara merata dan efisien; meningkatnya keikutsertaan dunia usaha dan masyarakat dalam kegiatan produktif di daerah; meningkatnya produktivitas tenaga kerja setempat, terutama di sektor pertanian, kehutanan, industri, danjasa; dan meningkatanya PAD, termasuk di daerah tingkat II yang relatif tertinggal. Terpeliharanya jalan dan jembatan sepanjang 3.973 km, terehabilitasinya jalan sepanjang 600 km, adanya penunjang jalan sepanjang 1.500 km dan penggantian jembatan sebanyak 20 buah atau sepanjang 2.000 m, meningkatnya kualitas dan kapasitas dan berbagai fasilitas atau sasaran penunjang dan keselamatan penerbangan di Comoro, meningkatnya jumlah frekuensi penerbangan komersial dari Dili (Comoro), terbukanya rute langsung Dili-Darwin-Ambon.

Sasaran yang hendak dicapai adalah dapat ditata atau dikendalikannya 15 buah aliran sungai utama, pembangunan jaringan irigasi pada daerah seluas 47.500 ha, dipeliharanya jaringan irigasi pada daerah irigasi seluas 55.000 ha dan diperbaiki serta ditingkatkannya jaringan irigasi seluas 10.000 ha.

Sedangkan sasaran pembangunan lingkungan hidup adalah melanjutkan kegiatan inventarisasi hutan yang telah dilakukan pada pelita V dengan target seluas 18.000 ha, rehabilitasi lahan kritis seluas 100 ha, upaya kegiatan pengembangan kawasan lindung serta pembentukan pusat studi lingkungan.

Sasaran pembangunan sektor kehutanan adalah terlaksananya reboisasi dan konversi hutan secara terpadu dan berwawasan lingkungan, yang pelaksanaannya melibatkan masyarakat.
 
 

II. HASIL SELAMA 3 TAHUN REPELITA VI (1994/95 - 1997/98)
 

A.    BIDANG EKONOMI

  1. Laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 1994 - 1995 sudah mencapai 9,43% sehingga melampaui target yang ditentukan sebesar 7,8%. Sektor yang mengalami pertumbuhan rata-rata cukup tinggi tahun 1994/1996 adalah sektor industri (13,32%), sektor pengangkutan dan komunikasi (18,74%) dan sektor industri pengolahan (21,44%). Yang cukup mengherankan adalah menurunnya laju pertumbuhan sektor pertanian sebesar 11,14% karena menurunnya produktivitas pertanian.
  2. Pendapatan perkapita baru mencapai Rp. 908.112,- dari target yang diinginkan (Rp. 1.180.000,-).
  3. Tingkat pengangguran pada tahun 1995 cukup tinggi sebesar 5,26% dari angkatan kerja yang ada, walaupun masih rendah dari rata-rata nasional (7,24%).
B.    BIDANG SOSIAL
  1. Wilayah Timor Timur mencakup areal seluas 14.874 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 1996 sekitar 859,7 ribu jiwa. Kepadatan penduduk sebesar 57,8 jiwa/km2 (atau setengah rata-rata kepdatan penduduk Indonesia 103,3 jiwa/km2). Dalam kurun waktu 1990-1996, laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,35%, jauh melebihi laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,69%.
  2. Kemajuan dibidang kesehatan menunjukkan menurunnya angka kematian bayi dari 67 pada tahun 1993 menjadi 60 per seribu kelahiran pada tahun 1995. Walaupun demikian kondisi ini masih dibawah target Pelita VI yaitu 57 per seribu kelahiran hidup. Demikian pula usia harapan hidup pada tahun 1996 baru mencapai 60 tahun dan belum mencapai target (64 tahun).
  3. Angka Partisipasi Kasar Sekolah Dasar (SD) tidak mencapai target (98) karena nilainya baru mencapai 96,16%. Demikian pula angka partisipasi kasar (APK) SLTP pun belum mencapai target (61,2), karena nilainya baru mencapai 55,30% pada tahun 1996. APK SLTA sudah cukup memadai karena mencapai 39,47% sedangkan target 39,6%.
  4. Tingkat melek huruf masih jauh dari target yaitu hanya mencapai 49,59%, sedangkan target yang diinginkan adalah 70%. Hal ini menunjukkan tingkat kinerja hanya mencapai 71%. Sedangkan dari segi rasio jumlah murid terhadap guru cukup memadai yaitu 1 guru melayani 20 murid.
 
C.    BIDANG FISIK DAN PRASARANA III. EVALUASI KEMAJUAN PROGRAM PRIORITAS

 
A. PENGHAPUSAN KEMISKINAN

  1. Sasaran penting lainnya adalah meningkatnya pendapatan masyarakat berpendapatan rendah, berkurangnya jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dan berkurangnya jumlah desa tertinggal selaras dengan sasaran penurunan jumlah penduduk miskin di tingkat nasional. Jumlah penduduk miskin (1993) sekitar 292.900 orang (36,2% total penduduk) dan jumlah desa miskin 312 desa (70,6% total desa) didukung 12 desa miskin dengan kondisi sangat parah. Data menunjukkan jumlah penduduk miskin menurun pada tahun 1996 menjadi 267.806 orang (31,15% total penduduk).
  2. Melalui program TAKESRA, 26.639 KK dengan total Rp. 53.278.000,- atau 70,48%. Jumlah keluarga pra-sejahtera menurun secara berturut-turut pada 3 tahun terakhir Repelita VI yaitu 78, 05%, 66,30% dan 62,07%.
 
B. PEMANTAPAN OTONOMI DAERAH
  1. Pemerintah daerah senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan pendapatan asli daerah guna meningkatkan laju pembangunan dan kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Salah satu ukuran untuk melihat semakin mantapnya otonomi daerah adalah dengan meningkatnya pendapatan asli daerah (PAD). Perkembangan PAD menunjukkan penurunan antara tahun pertama ke tahun kedua yaitu dari Rp. 5,598 milyar ke Rp. 5,444 milyar atau penurunan sebesar 2,75%, sedangkan target kebutuhan investasi pada tahun 1994/95 sebesar Rp 187,5 milyar atau selama Pelita VI sebesar Rp. 1,2 trilyun.
  2. Telah diserahkan beberapa usuran kepada Daerah Tingkat II antara lain untuk penanganan pertambahan bahan galian Gol. C, LLAJ, pemungutan hasil hutan dan pengembangan pariwisata.
C. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN TATA RUANG
  1. Sasaran di bidang penataan ruang dan lingkungan hidup adalah meningkatnya daya dukung sumber daya alam dan terpeliharanya kelestarian fungsi lingkungan hidup, termasuk menurunnya luas lahan kritis. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, pemerintah daerah Propinsi Timor Timur telah menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah yang serasi dan optimal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung alam, serta memperhatikan kebijaksanaan pembangunan nasional. Di dalam RTRWP di sebutkan pula kawasan-kawasan yang menjadi kawasan andalan, kawasan kritis dan kawasan lindung. Lahan tidur seluas 160.000 ha dimana 40.000 ha potensial untuk sawah dan 120.000 ha lahan kering/karena kelangkaan tenaga kerja dan investasi. Tindak lanjut pembangunan kawasan andalan BENAVIQ (Betano, Natarbara dan Viqueque) sebagai KAPET yang akan membuka kesempatan kerja dan berusaha sehingga dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.
  2. Selain itu daerah telah membuat RTRW Dati I dan Dati II. Saat ini operasionalisasi RTRW (Dati I dan Dati II) belum optimal karena lemahnya kemampuan aparat dalam perencanaan, pengawasan dan pengendalian. Terjadinya kerusakan pada sumber daya tanah dan air serta plasma nutfah yang mengancam mutu lingkungan karena tidak konsistensi penataan ruang (perencanaan dengan pemanfaatan).
D.    SUMBER PEMBIAYAAN

Untuk mempertahankan laju pertumbuhan 7,8% diperlukan investasi pemerintah sebesar 76% dan kontribusi swasta diharapkan sekitar 24%. Pada tahun 1996/97 investasi pemerintah dari APBN sebesar Rp.319,520 milyar (28,26%) sedangkan PMDN sebesar Rp. 735,7 milyar dan PMA sebesar US$ 32,1 juta (atau Rp. 75,435 milyar) atau total swasta 71,74 %. Dari kebutuhan investasi sebesar Rp 1,2 trilyun selama Pelita VI, maka sebenarnya kebutuhan investasi sudah terpenuhi pada tahun 1996/97.

 

IV. UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN

Propinsi Timor Timur memiliki potensi sumber daya alam yaitu di bidang pertanian lahan kering, peternakan, perikanan laut, kehutanan, dan pariwisata. Untuk pengembangan potensi diatas dan mengatasi permasalahan dari target yang belum tercapai, upaya-upaya yang diperlukan adalah sebagai berikut:
 

A.    BIDANG EKONOMI

  1. Laju pertumbuhan ekonomi yang sudah mencapai target pada tahun 1994 - 1995 harus dipertahankan melalui peningkatan prasarana pendukung (jalan, transmigrasi dan BPN) di sektor pertanian. Sektor pertanian yang menyerap tenaga kerja yang besar juga berperan dalam mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat dan mengatasi masalah tenaga kerja. Peningkatan kesempatan kerja akan pula meningkatkan pendapatan perkapita.
  2. Peran Koperasi/KUD sebagai lembaga perekonomian rakyat perlu ditingkatkan dari segi aspek organisasi maupun pengelolaan unit usaha yang ada. Kemitraan yang saling menguntungkan antara koperasi dan swasta atau BUMN perlu diberi kesempatan dan didorong.
  3. Berdasarkan fakta yang ada, pertumbuhan penduduk di Timor Timur masih cukup tinggi, jumlah tamatan sekolah dan migrasi masuk cukup besar, sedangkan pertumbuhan kesempatan kerja terbatas. Untuk menanggulangi permasalahan ini diperlukan kegiatan pengiriman/penyaluran tenaga kerja melalui AKAD, penerimaan PNS dan Kaderisasi Generasi Muda di berbagai sektor pembangunan disamping pengembangan pertanian sebagaimana yang telah diuraikan di atas.
 
B.    BIDANG SOSIAL  
  1. Peningkatan jumlah penduduk yang cukup tinggi terutama ditambah dengan adanya faktor migrasi masuk dan dinamika perkotaan harus diimbangi dengan pengaturan permukiman dan penyediaan prasarana seperti air bersih, listrik dan infrastruktur lainnya. Untuk itu mobilisasi dana pembangunan secara menyeluruh dan proporsional merupakan syarat mutlak. Selain dukungan diatas diperlukan dukungan untuk pola transmigrasi lokal dalam rangka penyebaran penduduk, peningkatan kesempatan kerja dan optimalisasi sarana dan prasarana.
  2. Untuk menurunkan angka kematian bayi diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat dan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan terutama puskesmas pembantu yang jumlahnya saat ini belum memadai serta tenaga medis.
  3. Untuk meningkatkan angka melek huruf sangat diperlukan dukungan yang optimal terhadap program Kejar Paket A yang telah dilancarkan selama ini. Selain itu untuk meningkatkan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun diperlukan peran serta Program SMP Terbuka, GN-OTA dan peningkatan kualitas/penyetaraan guru untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar Sekolah Dasar (SD) dan SLTP. Selain itu sarana dan prasarana pendidikan sekolah kejuruan perlu ditingkatkan berkaitan dengan peningkatan sektor pertanian dan tersedianya lapangan kerja di sektor industri.
  4. Akibat dari kondisi ekonomi penduduk yang masih rendah, maka untuk meningkatkan APK SLTA yang masih rendah dan belum mencapai target perlu diupayakan terobosan-terobosan yang memerlukan bantuan dari pusat. Dalam hal ini terobosan yang diusulkan berupa beasiswa bagi siswa pandai untuk masuk ke sekolah kejuruan.
 
C.    BIDANG FISIK DAN PRASARANA
  1. Prasarana jalan yang kondisinya telah mantap agar tetap mantap sampai akhir PELITA VI terutama ruas jalan nasional. Untuk ruas jalan propinsi diupayakan melaksanakan peningkatan ruas jalan yang masih berpermukaan tanah menjadi berpermukaan aspal serta pelapisan ulang permukaan jalan aspal yang berkondisi sedang. Untuk ruas jalan kabupaten terdapat beberapa sungai yang membutuhkan jembatan bentang panjang yang menurut wewenang penangannya sudah berada di Tingkat I dan Pusat.
  2. Untuk mendukung pengembangan kawasan anadala/Kapet BENAVIQ perlu dibangun jaringan irigasi, jalan dan infrastruktur lainnya, terutama pelabihan Naancurun.
  3. Dalam rangka mendukung pembangunan pertanian dan dikaitkan dengan target dalam Pelita VI yang belum tercapai, maka pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan irigasi pelu terus dilanjutkan.
  4. Di bidang ketenagalistrikan, rasio elektrifikasi perlu ditingkatkan sehingga kualitas hidup masyarakat meningkat. Hal ini dapat pula mendorong masyarakat lebih mempunyai waktu untuk belajar di malam hari. Salah satu usaha untuk meningkatkan pelayanan kelistrikan adalah melalui solar system.
  5. Dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan yang layak, bantuan dana Peningkatan Kualitas Perumahan penduduk yang terdapat di dalam Inpres Dati II perlu ditingkatkan.
 

D. LAINNYA

  1. Perlu ditingkatkannya kemampuan aparat dalam perencanaan, pengawasan dan pengendalian melalui pendidikan dan pelatihan.
  2. Perlu ditingkatkan upaya-upaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah antara lain melalui pengaturan pajak dan retribusi serta manajemen pelaksanaannya. Saat ini masih mengintensifkan galian C dan kendaraan bermotor.
  3. Perlunya ditindaklanjuti kerjasama ekonomi regional, karena Timor Timur mempunyai potensi di bidang kopi organic dan marmer, melalui bantuan pelatihan kontrol kualitas, bantuan peningkatan informasi pasar dan peningkatan skala ekonomi produksi.