Make your own free website on Tripod.com

PROPINSI DAERAH TINGKAT I
KALIMANTAN SELATAN
 
 
 
TINJAUAN PARUH WAKTU
REPELITA VI
 

I. SASARAN REPELITA VI

A. BIDANG EKONOMI

Sasaran pembangunan bidang ekonomi adalah tercapainya laju pertumbuhan PDRB nonmigas yang diperkirakan rata-rata sekitar 8,9 persen per tahun; dengan laju pertumbuhan sektoral, yaitu sektor pertanian rata-rata sekitar 10,1 persen; industri nonmigas sekitar 10,8 persen; perdagangan sekitar 10,8 persen; pertambangan sekitar 10,6 persen; angkutan dan komunikasi sekitar 9,0 persen; dan pemerintahan sekitar 4,5 persen.
 

B. BIDANG SOSIAL BUDAYA

Sasaran pembangunan bidang sosial budaya adalah meningkatnya derajat kesehatan dan gizi masyarakat secara merata dengan peningkatan usia harapan hidup menjadi 60.7 tahun dan penurunan angka kematian bayi menjadi 67 per seribu kelahiran hidup; dan menurunnya laju pertumbuhan penduduk sesuai dengan sasaran nasional.

Sasaran pembangunan di bidang pendidikan adalah makin merata, meluas, dan meningkatnya kualitas pendidikan dasar dan kejuruan; meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) termasuk madrasah tsanawiyah (MTs) sekitar 60,1 persen; dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) termasuk madrasah aliyah (MA) sekitar 34,8 persen; serta dimulainya pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.

 
C. BIDANG FISIK DAN PRASARANA

Sasaran selanjutnya adalah meningkatnya ketersediaan prasarana dan sarana dasar ekonomi terutama berkembangnya sistem transportasi antarmoda yang terpadu sehingga mampu meningkatkan aksesibilitas wilayah propinsi ini secara merata dan efisien; meningkatnya keikutsertaan dunia usaha dan masyarakat dalam kegiatan produktif di daerah, meningkatnya produktivitas tenaga kerja setempat terutama di sektor pertanian, industri, dan jasa, dan meningkatnya PAD, termasuk di daerah tingkat II yang relatif tertinggal.

 

II. HASIL PEMBANGUNAN SELAMA 3 TAHUN REPELITA VI (1994/95 - 1996/97)

A. BIDANG EKONOMI

  1. Berdasarkan harga konstan 1993, laju pertumbuhan ekonomi pada periode 1993-1995 mencapai 9,04 persen rata-rata per tahun. Dibanding dengan sasaran pertumbuhan rata-rata selama Repelita VI pencapaian laju pertumbuhan tersebut telah melampaui target yaitu sebesar 8,90 persen. Sektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi adalah sektor pertambangan & penggalian (30,13 persen), perdagangan (10,0 persen) dan angkutan dan transportasi (9,22 persen).
  2. Struktur ekonomi Kalimantan Selatan selama periode 1993-1995 mengalami perubahan. Pada tahun 1993 sumbangan sektor pertanian adalah 24,41 persen, yang kemudian pada tahun 1995 turun menjadi 21,80 persen. Sektor industri mengalami kenaikan dari 17,91 persen pada tahun 1993 menjadi 20,53 persen pada tahun 1995. Sektor jasa bahkan mengalami penurunan, yaitu dari 10,06 persen pada tahun 1993 menjadi 9,00 persen pada tahun 1995. Kondisi ini menunjukkan suatu struktur ekonomi Kalimantan Selatan masih didominasi oleh sektor pertanian. Dismaping itu perkembangan struktur perekonomian sampai dengan tahun 1995 ini masih di bawah target kontribusi yang diharapkan pada akhir Repelita VI, yaitu sektor pertanian 20,26 persen dan sektor industri 24,33 persen dan selanjutnya sektor industri ini diharapkan akan menjadi tulang punggung perekonomian Kalimantan Selatan.
  3. Dengan laju pertumbuhan ekonomi seperti tersebut diatas dan struktur ekonomi yang tidak banyak berubah ternyata telah berdampak pada peningkatan PDRB per kapita (periode 1993-1995) yang relatif besar. Pada tahun 1993, PDRB per kapita Kalimantan Selatan sekitar Rp. 1,68 juta dan pada tahun 1995 meningkat menjadi Rp. 1,93 juta. Dibanding dengan sasaran pendapatan perkapita pada akhir Repelita VI yaitu sebesar Rp. 3,02 juta maka pencapaian pendapatan ini masih jauh dari sasaran.
  4. Selama dua tahun terakhir (1994-1995) telah tercipta tambahan kesempatan kerja sebesar 157.310 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pada akhir Repelita VI target penciptaan tambahan kesempatan kerja akan tercapai.
 

B. BIDANG SOSIAL BUDAYA

  1. Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan mencakup areal seluas 37.660 kilometer persegi atau sekitar 2 persen dari luas daratan Indonesia. Wilayah ini didiami oleh jumlah penduduk yang relatif sedikit. Pada tahun 1995 jumlah penduduk propinsi ini hanya mencapai 2.6 juta jiwa atau dengan kepadatan penduduk rata-rata sebesar 76 jiwa per Km2. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, 1990-94, laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan menjadi hanya 2,3 persen.
  2. Kemajuan di bidang kesehatan menunjukkan peningkatan, seperti antara lain ditunjukkan oleh angka kematian bayi per seribu kelahiran hidup yang menurun dari 76 pada tahun 1993 menjadi 72 pada tahun 1995. Hal ini berarti bahwa target Repelita VI yaitu 67 tahun masih belum dicapai. Sedangkan angka harapan hidup menunjukkan peningkatan yaitu dari 58,7 tahun (1993) menjadi 59,5 tahun (1995) dimana masih dibawah sasaran Repelita yaitu 60,7 tahun. Adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat tersebut didukung oleh peningkatan pelayanan kesehatan yang makin merata dan makin luas jangkauannya. Pada tahun 1996 telah ada 24 unit rumah sakit, dan 118 unit pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), serta 571 unit puskesmas pembantu sebanyak.
  3. Angka partisipasi kasar sekolah dasar (SD) juga mengalami peningkatan, dimana pada tahun 1993 baru mencapai 110,6 persen meningkat menjadi 115.5 persen pada tahun 1995. Begitu pula angka partisipasi kasar sekolah menengah tingkat pertama (SMTP) meningkat dari 48,5 persen pada tahun 1993 telah mencapai 56,8 persen pada tahun 1995. Dibanding dengan sasaran pada akhir Repelita VI, pencapaian angka partisipasi SD, SLTP dan SLTA ini masih di bawah sasaran yang telah ditentukan. Namun demikian, pencapaian tingkat partisipasi pendidikan selama ini didukung oleh ketersediaan sekolah yang relatif memadai, dimana pada tahun 1995 telah tersedia 3.025 unit SD dengan jumlah guru tercatat sebanyak 22.774 orang guru SD dan setiap guru SD melayani 7 murid.
  C. BIDANG FISIK PRASARANA
  1. Pembangunan daerah Kalimantan Selatan didukung oleh pembangunan prasarana yang dilaksanakan, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah tingkat I dan daerah tingkat II. Mutu pelayanan prasarana jalan relatif meningkat, yang ditandai dengan relatif mantapnya jalan nasional (100,0 persen) dimana pencapaian ini telah sesuai dengan target pada akhir Repelita VI. Namun untuk jalan propinsi baru tercapai 74,5 persen dari sasaran 100 persen pada akhir Repelita VI. Demikian pula dengan jalan kabupaten yang baru mencapai 54,7 persen masih dibawah sasaran akhir Repelita VI sebesar 90 persen.
  2. Ketersediaan prasarana transportasi lainnya yang mendukung pembangunan daerah adalah prasarana transportasi laut dan transportasi udara. Propinsi Kalimantan Selatan memiliki 3 pelabuhan laut dan sungai, yaitu pelabuhan samudra Trisakti sebagai pelabuhan laut utama, pelabuhan laut Kotabaru dan pelabuhan sungai Martapura. Transportasi udara dilayani oleh Bandar Udara Syamsudin Noor di Banjarmasin yang melayani penerbangan dalam negeri. Selain itu sampai saat ini telah dibangun pelbuhan udara perintis di Murung Pudak, di Batulicin dan di Kotabaru.
  3. Di bidang pengairan, telah dilaksanakan peningkatan prasarana pengairan, seperti bendung dan jaringan irigasi. Pada tahun 1995, jaringan irigasi teknis dan setengah teknis yang ada mengairi sawah seluas kurang lebih 30.655 hektare dan irigasi desa mengairi sawah sekitar 138.932 hektare sehingga membantu peningkatan dan menunjang produksi pertanian, khususnya dalam rangka mencapai swasembada beras. Pencapaian pembangunan prasarana irigasi ini selama periode 1993-1995 telah melampaui sasaran sampai dengan akhir Repelita VI.
  4. Penyediaan prasarana ketenagalistrikan di propinsi ini dilayani oleh Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) Wilayah VI yang meliputi daerah-daerah Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Sampai dengan tahun 1995 telah dibangun pembangkit dan distribusi yang mampu menghasilkan daya terpasang sebesar 406.671 MW.
  5. Pembangunan perumahan dan pemukiman, khususnya yang diperuntukkan bagi golongan masyarakat menengah ke bawah, dalam dua tahun terakhir 1994-1995, telah dibangun sebanyak 2.556 unit rumah sederhana. Sedangkan pelayanan air bersih pada akhir tahun ke II Repelita VI baru mencapai 28,0 persen (Perkotaan), dan 45,1 persen (perdesaan).
  III. EVALUASI KEMAJUAN PROGRAM PRIORITAS

 A. PENGHAPUSAN KEMISKINAN

  1. Perkembangan pelaksanaan IDT, dimana jumlah penduduk miskin pada tahun 1993 sekitar 517.526 orang atau 2,0 persen dari jumlah penduduk propinsi menurun menjadi tinggal hanya sekitar 424.279 orang atau 1,9 persen dari penduduk propinsi. Selama 2 (dua) tahun anggaran pelaksanaan program pembangunan prasarana pendukung Desa Tertinggal telah dibangun kegiatan fisik, yang meliputi; jalan sepanjang 346 Km, jembatan sepanjang 4.695 meter, sarana air bersih 81 unit serta MCK sebanyak 206 unit.
  2. Di propinsi Kalimantan Selatan telah terjadi peningkatan keluarga sejahtera baik secara absolut maupun secara relatif. Keluarga yang mendapat dukungan dana dari Yayasan Dana Sejahtera Mandiri berupa tabungan keluarga sejahtera (TAKESRA) sebesar Rp. 2.000 per KK atau sebesar Rp. 133.510.000 bagi 66.755 KK. Disamping itu, mereka memperoleh dana kredit usaha keluarga sejahtera (KUKESRA) secara bertahap dimana pelaksanaan sampai pada bulan Agustus 1996 realisasinya mencapai Rp. 5,8 juta atau sekitar 1,6 persen dari alokasi dana sebesar Rp. 367,1 juta.
  B. PEMANTAPAN OTONOMI DAERAH

 Salah satu ukuran untuk melihat semakin mantapnya otonomi daerah Pendapatan Asli Derah (PAD) menunjukkan peningkatan yang pesat, dengan rata-rata pertumbuhan selama dua tahun pertama Repelita VI mencapai kurang lebih 41,9 persen per tahun. Dalam masa itu PAD telah meningkat dari Rp 21,8 miliar pada tahun 1993/94 menjadi Rp 40,8 miliar pada tahun 1995/966. Peningkatan yang cukup berarti dari PAD menunjukkan peningkatan kemampuan daerah untuk membiayai belanja pembangunan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tingkat I Kalimantan Selatan.

 

C. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN TATA RUANG

  1. Sampai saat ini berdasarkan Rencana tata Ruang Propinsi Kalimantan Selatan, luas kawasan lindung yang telah ditetapkan adalah 516.863 Ha atau 13,8 persen dari luas propinsi. Penetapan kawasan lindung ini didasarkan kepada kriteria-kriteria tertentu, seperti faktor kelerengan, jenis tanah, curah hujan dan faktor ketinggian. Demikian pula dengan pemberian izin kepada HTI dan HPH yang mengacu kepada Tata Guna Hutan Kesepakatan telah diberikan kepada pengusaha-pengusaha. Namun dalam pelaksanaannya telah ditemukan adanya tumpang tindih lahan perkebunan dengan kehutanan (HTI) seluas 36.646 Ha.
  2. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, pemerintah daerah tingkat I Kalimantan Selatan sampai dengan tahun ketiga Repelita VI ini telah dilaksanakan kegiatan penyusunan beberapa produk dokumen perencanaan tata ruang antara lain: RTRWP, RTRWK seluruh Dati II, Rencana Tata Ruang Kawasan Industri dan Pariwisata, Rencana Tata Ruang Ibukota Kabupaten Dati II/Kotamadya/Kotif dan Rencana Tata Ruang Ibukota Kecamatan.
  D. SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

Keberhasilan yang telah dicapai oleh propinsi Kalimantan Selatan selama ini tidak terlepas dari dukungan pembiayaan baik yang bersumber dari pemerintah maupun dari dunia usaha atau pihak swasta. Dalam tahun anggaran 1995/96 anggaran pembangunan pemerintah (APBN) mencapai sekitar Rp. 273,8 miliar dan meningkat menjadi Rp. 477,6 miliar pada tahun 1996/97 yang berarti meningkat sekitar 74 persen. Anggaran APBN ini terdiri dari bantuan pembangunan daerah sebesar Rp. 141,8 miliar pada tahun 1995/96 dan meningkat menjadi Rp. 182,8 miliar pada tahun 1996/97 atau meningkat sekitar 22 persen. Selain itu dana pembangunan yang bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD) telah pula meningkat dari Rp. 13,3 miliar pada tahun 1995/96 menjadi Rp. 18,53 miliar pada tahun 1996/97 atau meningkat sebesar 39,26 persen. Sedangkan pembiayaan dari sektor swasta mencapai sekitar Rp. 3,68 miliar atau 49,5 persen dari yang direncanakan yaitu Rp. 7,44 miliar selama tiga tahun pertama Repelita VI. Sumberdana lain bagi pembangunan yaitu dari investasi masyarakat/swasta di Kalimantan Selatan selama tiga tahun pertama Repelita VI sebesar Rp. 36.971,4 juta (PMDN) dan US$ 5.842.600 (PMA) dimana masih jauh dibawah target dalam jangka periode yang sama yaitu Rp. 2.814.155,8 juta dan US$ 2.041.2 juta.

 

IV. UPAYA PEMBANGUNAN SELANJUTNYA

Dalam upaya pencapaian target Repelita VI, maka secara konsisten ditempuh langkah-langkah dan kebijaksanaan sebagai berikut:

  1. Pembangunan prasarana dan sarana perhubungan utama daerah, yang antara lain meliputi jalan Lingkar Utara (Jembatan Barito-Liangganggang 35 km) untuk menghindarkan kesemrawutan lau-lintas di kotamadya Banjarmasin serta rawannya kecelakaan di kemudian hari, maka jalan Kalimantan ini dialihkan melalui luar kota Banjarmasin, yaitu dari Batas Kalteng-Jembatan Barito (Pulau Babut) langsung ke Liangganggang. Selain itu, juga akan ditingkatkan ruas jalan batas propinsi Kalteng-Jembatan Barito dan ruas jalan batas dari Batulicin-Tanah Grogot (batas propinsi Kaltim), serta pembangunan poros penghubung jalan Kandangan-Batulicin, dan pengembangan angkutan batu bara melalui pengembangan perkeretaapian.
  2. Dalam subsektor perhubungan laut, akan diselesaikan pembangunan pelabuhan pengganti Martapura Lama, Jembatan Basirih, dan ruas jalan keluar masuk pelabuhan, termasuk penanganan ambang sungai Barito sehingga bisa dilayari kapal besar selama 24 jam, dimana saat ini dengan kegiatan pengerukan yang ada baru dapat dilayani selama 4 jam per hari, yaitu pada saat air pasang, serta peningkatan prasarana dan sarana pelabuhan Batulicin bagi pelayanan keluar masuk barang dan penumpang untuk Kapet Batulicin.
  3. Dalam rangka meningkatkan keterpaduan dalam pemanfaatan ruang daerah serta dalam rangka menjamin pembangunan yang berkelanjutan, perlu ditingkatkan upaya penataan ruang daerah yang diarahkan untuk pengembangan kawasan-kawasan andalan yang telah ditetapkan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kabupaten.
  4. Peningkatan kelanjutan irigasi Riam kanan sehingga dapat mencapai target Repelita VI yaitu mengairi sawah seluas 26.000 ha, yang antara lain ditujukan dan sejalan dengan upaya untuk mempertahankan swasembada pangan dan pengembangan hortikultura terutama untuk jenis komoditi jagung, kedelai, buah-buahan, dan sayuran.
  5. Dalam rangka diversifikasi pangan, perlu terus dipuyakan pengembangan ternak sapi potong, yang sampai saat ini target swasembada ternak sapi potong baru dapat dicapai 25%, serta pengembangan sumberdaya perikanan dan budidaya ikan, terutama pengembangan budidaya ikan lokal, serta pengembangan dan penguasaan teknologi.
  6. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya masnusia di daerah, perlu terus diupayakan peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan sasaran penurunan angka kematian bayi, balita, dan ibu melahirkan yang relatif masih tinggi, serta terus ditingkatkannya mutu pendidikan melalui pelaksanaan lanjutan pembangunan SMU Unggulan.