Make your own free website on Tripod.com

PROPINSI DAERAH TINGKAT I
SULAWESI UTARA

 

 

TINJAUAN PARUH WAKTU
REPELITA VI

 

 

I. SASARAN REPELITA VI

 

A. BIDANG EKONOMI

Sasaran pembangunan bidang ekonomi Sulawesi Utara adalah tercapainya laju pertumbuhan PDRB nonmigas yang diperkirakan rata-rata sekitar 8,5 persen per tahun (atas dasar harga konstan 1993); dengan laju pertumbuhan sektoral, yaitu sektor pertanian rata-rata sekitar 3,2 persen; industri nonmigas sekitar 11,0 persen; perdagangan sekitar 9,4 persen; pertambangan sekitar 12,2 persen; sektor bangunan sekitar 13,4 persen; dan sektor angkutan dan komunikasi sekitar 7,7 persen.

Dengan target laju pertumbuhan seperti tersebut di atas, pendapatan per kapita diharapkan mencapai sekitar Rp. 1,5 juta pada akhir Repelita VI dengan peningkatan kesempatan kerja mencapai 146.700 orang.
 
 

B. BIDANG SOSIAL BUDAYA

Sasaran pembangunan bidang sosial budaya adalah meningkatnya derajat kesehatan dan gizi masyarakat secara merata dengan peningkatan usia harapan hidup menjadi 65,2 tahun dan penurunan angka kematian bayi menjadi 48 per seribu kelahiran hidup; dan menurunnya laju pertumbuhan penduduk sesuai dengan sasaran nasional.

Sasaran pembangunan di bidang pendidikan adalah makin merata, meluas, dan meningkatnya kualitas pendidikan dasar dan kejuruan; meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) sekolah dasar termasuk madrasah ibtidaiyah (MI); sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) termasuk madrasah tsanawiyah (Mts) sekitar 64,0 persen; dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) termasuk madrasah aliyah (MA) sekitar 44,2 persen; serta dimulainya pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.

 

C. BIDANG FISIK DAN PRASARANA

Sasaran di bidang fisik dan prsarana adalah meningkatnya ketersediaan prasarana dan sarana yang dapat mendukung kegiatan ekonomi daerah secara merata dan efisien, terutama dengan dikembangkannya sistem transportasi antarmoda yang terpadu sehingga mampu meningkatkan aksesibilitas wilayah propinsi ini. Dengan demikian dapat meningkatkan keikutsertaan dunia usaha dan masyarakat dalam kegiatan produktif dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja setempat di sektor pertanian, industri, dan jasa; dan meningkatnya PAD, termasuk di daerah tingkat II yang relatif tertinggal.
 

  II. HASIL PEMBANGUNAN SELAMA 3 TAHUN REPELITA VI (1994/95-1996/97)   A. BIDANG EKONOMI

Berdasarkan harga konstan 1993, laju pertumbuhan ekonomi pada periode 1993-1995 mencapai 8,00 persen rata-rata per tahun (!994-1996: 8.31 persen). Dengan pencapaian laju pertumbuhan tersebut dapat dikatakan bahwa sasaran pertumbuhan Repelita VI sebesar 8,5 persen akan dapat dilampaui. Sektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi adalah sektor pertambangan & Penggalian (11,1 persen), sektor industri (9,7 persen), dan sektor Jasa (7,6 persen).

Struktur ekonomi Sulawesi Utara selama periode 1993-1996 tidak mengalami banyak perubahan. Pada tahun 1993 sumbangan sektor pertanian adalah 27,62% persen, yang kemudian pada tahun 1996 menurun menjadi 26.00 persen. Sektor Industri hanya mengalami kenaikan yang signifikan dari 8,63 persen pada tahun 1993 menjadi 10,1 persen pada tahun 1996. Sektor Jasa mengalami sedikit kenaikan, yaitu dari 60,44 persen pada tahun 1993 menjadi 60,51 persen pada tahun 1995.

Dengan laju pertumbuhan ekonomi seperti tersebut diatas dengan struktur ekonomi yang tidak banyak berubah ternyata berdampak pada peningkatan PDRB per kapita (periode 1993-1996) yang cukup signifikan. Terlihat bahwa pada tahun 1993, PDRB per kapita Sulawesi Utara sekitar Rp 1,093 juta dan pada tahun 1996 telah meningkat menjadi 1,425 juta. Dengan demikian target pada akhir Repelita VI sebesar Rp. 1.500.000,- dapat diharapkan tercapai.
Jumlah penduduk Sulawesi Utara pada tahun 1996 mencapai 2.686.300 jiwa dengan jumlah angkatan kerja potensial mencapai 80,2 persen. Pada tahun 1984, dari Angkatan Kerja yang ada, sekitar 1.044.000 orang (67,2 persen) masih berpendidikan SD (701.600 orang), SMTP Umum 11,7 persen (122.100 orang), SMTP Kejuruan 1,0 persen (10.400 orang), SMTA Umum 9,3 persen (97.100 orang), SMTA Kejuruan 7,6 persen (79.300 orang). Sedangkan yang berpendidikan Akademi 1,8 persen (18.800 orang) dan universitas 1,4 persen (14.700 orang).

Selama dua tahun terakhir (1994-1996) telah tercipta tambahan kesempatan kerja sebesar 3,03 persen (tambahan kesempatan kerja pada tahun 1995-1996 sebesar 146.700 orang). Hal ini menunjukkan bahwa pada akhir Repelita VI target penciptaan tambahan kesempatan kerja akan tercapai.
 

B. BIDANG SOSIAL BUDAYA

Wilayah Propinsi Sulawesi Utara mencakup areal seluas 19.023 kilometer persegi atau hanya sekitar 1 persen dari luas daratan Indonesia, merupakan wilayah di Indonesia Timur yang relatif cukup padat. Pada tahun 1996 jumlah penduduk propinsi ini mencapai 2,7 juta jiwa atau dengan kepadatan penduduk rata-rata sebesar 141,2 jiwa per Km2. Dalam kurun waktu 1990-96, laju pertumbuhan penduduk masih di atas satu persen, yaitu 1,35 persen, namun sudah dibawah laju pertumbuhan nasional yang sebesar 1,69 persen.

Kemajuan di bidang kesehatan menunjukkan adanya peningkatan antara lain ditunjukkan oleh angka kematian bayi per seribu kelahiran hidup yang menurun dari 54 pada tahun 1993 menjadi 51 pada tahun 1995. Dari angka kecenderungan tersebut dapat dilihat bahwa target pada akhir Repelita VI sebesar 48 kemungkinan akan tercapai. Sedangkan angka harapan hidup, juga menunjukkan adanya sedikit peningkatan, yaitu dari 63,8 tahun (1993) menjadi 64,4 tahun (1995), juga memperlihatkan bahwa target Repelita VI sebesar 65,2 tahun akan tercapai. Adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat tersebut tidak lepas dari dukungan peningkatan pelayanan kesehatan yang makin merata dan makin luas jangkauannya. Pada tahun 1995 telah ada 22 unit rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur 2.618 buah, dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta puskesmas pembantu sebanyak 138 unit.

Angka partisipasi kasar sekolah dasar (SD) di Sulawesi Utara mengalami sedikit penurunan, dimana pada tahun 1994 mencapai 106,41 persen menurun menjadi 106,19 persen pada tahun 1995, sehingga target Repelita VI sebesar ...... persen belum tercapai. Sebaliknya, angka partisipasi kasar sekolah menengah tingkat pertama (SMTP) meningkat dari 57,52 persen pada tahun 1994 menjadi 61,20 persen. Diharapkan target pada akhir tahun Repelita VI sebesar 64 persen akan tercapai. Tingkat partisipasi pendidikan ini didukung oleh ketersediaan sekolah yang relatif memadai, dimana pada tahun 1995 telah tersedia 2.953 unit SD dengan jumlah guru tercatat sebanyak 25.554 orang guru SD dan setiap guru SD melayani 11 murid.

  C. BIDANG FISIK PRASARANA

Pembangunan daerah Sulawesi didukung oleh pembangunan prasarana yang dilaksanakan, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah tingkat I dan daerah tingkat II. Mutu pelayanan prasarana jalan relatif meningkat, yang ditandai dengan relatif mantapnya jalan nasional (100 persen), jalan propinsi ( 49 persen), dan jalan kabupaten ( 48 persen).

Ketersediaan prasarana transportasi lainnya yang mendukung pembangunan daerah adalah prasarana transportasi laut dan transportasi udara. Dalam mewujudkan kerjasama BIMP-EAGA, pada tahun 1996 telah dibuka jalur pelayaran laut internasional dari pelabuhan Bitung ke Davao, bagi kapal penumpang maupun barang. Selain itu, juga ditingkatkan fasilitas pelabuhan di Kabupaten Sangihe Talaud dan Kabupaten Gorontalo. Seiring dengan itu, pelayanan perhubungan udara di Bandara Udara Sam Ratulangi selama tiga tahun Repelita VI ini juga dikembangkan dan ditingkatkan, baik untuk penerbangan internasional maupun domestik, demikian pula Bandara Udara pendukungnya seperti Bandara Jalaludin Gorontalo, Bandara Naha Tahuna, dan Bandara Melonguane Talaud.

Di bidang pengairan, telah dilaksanakan peningkatan prasarana pengairan, seperti bendungan dan jaringan irigasi. Pada tahun 1994, dibangun jaringan irigasi untuk mengairi sawah seluas kurang lebih 1.500 hektar, dan pada tahun 1996 meningkat lagi menjadi 4.125 hektar, sehingga membantu peningkatan produksi pertanian, khususnya dalam rangka mencapai swasembada beras.

Penyediaan prasarana ketenagalistrikan di propinsi ini dilayani oleh Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) Wilayah VII yang meliputi juga Propinsi Sulawesi Tengah. Sampai dengan tahun 1995 telah dibangun pembangkit dan distribusi yang mampu menghasilkan daya terpasang sebesar 183.351 MW. Khususnya di Sulawesi Utara sendiri, keberhasilan yang telah dicapai ditandai dengan meningkatnya jumlah unit pembangkit tenaga listrk dari 124 unit (1994) menjadi 142 unit (1995), dengan daya terpasang sebesar 122.226 KW menjadi 140.326 KW, dan daya terpasang pada posisi bulan Agustus 1996 sudah mencapai 115.029 KW. Demikian pula jumlah konsumen yang terlayani meningkat dari 280.628 sambungan pada tahun 1994 menjadi 302.178 sambungan pada tahun 1995. Sedangkan jumlah desa yang sudah terlayani jaringan listrik pada tahun 1994 sebanyak 974 desa atau mencapai 85,75 persen dari total desa yang ada di Sulawesi Utara.

Pembangunan perumahan dan pemukiman, khususnya yang diperuntukkan bagi golongan masyarakat menengah ke bawah meningkat cukup pesat. Dalam dua tahun terakhir 1994-1995, telah dibangun sebanyak 2.728 unit rumah sederhana. Sedangkan pelayanan air bersih pada tahun kedua Repelita VI (1995), total terbangun pelayanan bagi 172.600 pelanggan di daerah perkotaan, sementara di daerah pedesaan sebanyak 105.600 pelanggan.

  III. EVALUASI KEMAJUAN PROGRAM PRIORITAS
 

A. PENGHAPUSAN KEMISKINAN

Perkembangan pelaksanaan IDT menunjukkan usaha penghapusan kemiskinan di Sulawesi Utara cukup berhasil, dimana jumlah penduduk miskin pada tahun 1993 sekitar 304.733 orang atau 1,2 persen dari jumlah penduduk propinsi menurun menjadi tinggal sekitar 284,648 orang atau 1,3 persen dari penduduk propinsi. Selama 2(dua) tahun anggaran pelaksanaan program pembangunan prasarna pendukung Desa Tertinggal telah dibangun kegiatan fisik, yang meliputi; jalan sepanjang 225 Km, jembatan sepanjang 571 meter, sarana air bersih 678 unit serta MCK sebanyak 42 unit.

Usaha penghapusan kemiskinan selain melalui program IDT juga melalui Program Takesra Kukesra. Di Propinsi Sulawesi Uata jumlah keluarga yang termasuk dalam keluarga Pra-sejahtera dan Sejahtera I yang memperoleh bantuan dari Program Takesra dan Kukesra berjumlah 303.239 KK. Pada Program Kukesra Tahap I dari dana sebesar Rp. 386.120.000 telah dapat diserap 98.8 persen.

 
B. PEMANTAPAN OTONOMI DAERAH

Salah satu ukuran untuk melihat semakin mantapnya otonomi daerah adalah perkembangan Pendapatan asli daerah (PAD). PAD Sulawesi Utara menunjukkan peningkatan yang pesat, dengan rata-rata pertumbuhan selama dua tahun pertama Repelita VI mencapai kurang lebih 19,7 persen per tahun. Dalam masa itu PAD telah meningkat dari Rp 19,420 miliar pada tahun 1994/95 menjadi Rp 23,597 miliar pada tahun 1995/966. Peningkatan yang cukup berarti dari PAD menunjukkan peningkatan kemampuan daerah untuk membiayai belanja pembangunan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tingkat I Sulawesi Utara.

 

C. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN TATA RUANG

Usaha pengelolaan lingkungan hidup dan tata ruang di Sulawesi Utara selama dua tahun Repelita VI berupa langkah-langkah inventarisasi dan evaluasi sumberdaya darat, penyelamatan hutan, tanah dan air; pembinaan dan pengelolaan lingkungan hidup; pengendalian pencemaran lingkungan hidup; pembinaan daerah pantai dan rehabilitasi lahan kritis.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, pemerintah daerah tingkat I Sulawesi Utara telah menyusun Rencana tata Ruang Wilayah Propinsi. Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah yang serasi dan optimal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daya dukung alam, serta memperhatikan kebijaksanaan pembangunan nasional.

  D. SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

Keberhasilan yang telah dicapai oleh propinsi Sulawesi Utara selama ini tidak terlepas dari dukungan pembiayaan baik yang bersumber dari pemerintah maupun dari dunia usaha atau pihak swasta. Dalam periode TA 1994/95-1997/98 APBN yang dialokasikan untuk pembangunan di Sulawesi Utara terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 41.82 persen per tahun. Demikian pula APBD I Sulawesi Utara yang terus meningkat, dari Rp. 93,8 miliar pada TA 1994/95 menjadi Rp. 115,3 miliar pada TA 1996/97.
 
 

IV. UPAYA PEMBANGUNAN SELANJUTNYA

Dalam upaya mencapai sasaran pembangunan dalam sisa waktu Repelita VI, maka diperlukan langkah-langkah persiapan berupa program\proyek yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan maupun kendala di daerah yang belum terpecahkan. Langkah-langkah yang dimaksud dapat dikategorikan sebagai kebijakan strategis dan kebijakan operasional (program/proyek).

Dalam hubungannya dengan kebijakan strategis, beberapa kegiatan yang diprioritaskan perwujudannya dalam sisa tahun Repelita VI antara lain meliputi:

  1. Pemantapan konsep pembangunan yang dkaitkan dengan prioritas program dan perkembangan faktor-faktor yang mempengaruhi pem-bangunan daerah Sulawesi Utara melalui pendekatan "Panca Program Unggulan", yaitu:
  1. Mengoptimalkan manajemen pembangunan daerah dengan mening-katkan koordinasi dalam setiap proses manajemen (perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, pengawasan dan evaluasi). Untuk lebih mengefektifkan program-program pembangunan, maka perlu dilakukan sosialisasi program.
  2. Menjadikan Kawasan Andalan/Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Manado-Bitung sebagai Pusat Pengembangan Utama di bagian utara kawasan Indonesia.
  3. Pengembangan pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, perkebun-an, perikanan, peternakan, dan kehutanan), dengan tetap memberikan perhatian khusus pada kawasan kritis (seperti: DAS Tondano dan DAS Limboto: Bolango-Bone, dan kawasan khusus perbatasan Sangihe-Talaud)
  4. Penataan kelembagaan baik di Dati I dan Dati II (Aparatur). Untuk mendukung desentralisasi dan otonomi daerah lembaga Wakil Gubernur perlu dikembangan (misalnya menjadi 2 Wagub). Demikian pula dengan Asisten Setwilda yang beban kerjanya semakin berat perlu dibantu oleh Pembantu Asisten Setwilda (Banas Setwilda).
  5. Perlu disiapkan pemekaran administratip wilayah, seperti Dati II Boalemo (Gorontalo), Dati II Talaud, Kotif Amurang, Kotif Tomohon, dan Kotif Kotamobagu, yang sekaligus diarahkan untuk menggali dan meningkatkan kemampuan keuangan daerah melalui pemanfaatan teknologi menuju otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab.
  6. Menciptakan iklim berusaha yang kondusif melalui deregulasi dan kemudahan-kemudahan untuk mendorong kegiatan perekonomian daerah (investasi, ekspor non-migas, usaha kecil dan menengah).
  7. Penanggulangan kemiskinan di daerah minus, kritis, terpencil, dan daerah perbatasan dan terbelakang. Upaya ini dikaitkan langsung dengan skema bantuan yang ada seperti IDT, Takesra, Kukesra, GN-OTA, serta terus memantapkan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan, peningkatan gizi masyarakat, dan peningkatan kualitas mental masyarakat yang antara lain melalui upaya peningkatan SDM Olah Raga untuk mengangkat prestasi Sulawesi Utara di bidang olah raga.
Kebijakan strategis tersebut kemudian dijabarkan ke dalam program dan proyek akselerasi pencapaian sasaran Repelita VI sebagai berikut: Selain itu, upaya percepatan pencapaian sasaran Repelita VI di atas perlu didukung perwujudannya melalui pelaksanaan: